⚠️Laporan UNESCO Tahun 2025 mengutip ICSU (2017) menyatakan dengan tegas:
📍”Nutrisi dan capaian pendidikan terhubung dalam banyak hal. Gizi yang tidak layak memperlambat perkembangan otak, mengganggu sekolah dan proses pembelajaran, dari masa kecil hingga dewasa.”
📍”Ketidakcukupan makanan di tingkat rumah tangga seringkali berpengaruh pada menurunnya capaian akademik. Mulai dari keluarga tidak mampu mengupayakan pendidikan, anak putus sekolah karena bekerja, atau jika mereka sekolah tidak mampu berkonsentrasi dan fungsi kognitif mereka berkurang karena kelaparan dan kurang gizi.”
🗒️ Itulah mengapa MBG sangat penting
Lalu apa hubungannya MBG dengan peningkatan kognitif anak?
Survei skala besar di Indonesia membuktikan…
1️⃣Sekolah penerima MBG mencatatkan rata-rata PENURUNAN GANGGUAN BELAJAR AKIBAT LAPAR lebih besar 2,37 poin persentase dibandingkan sekolah yang belum menerima.
2️⃣Di wilayah Indonesia Timur, penurunan gangguan belajar akibat lapar pada sekolah penerima MBG bahkan tercatat 14,85 poin persentase LEBIH BESAR dibandingkan sekolah yang belum melaksanakan MBG.
Kesimpulannya:
✅Pencapaian ini mengisyaratkan bahwa intervensi gizi melalui MBG tidak hanya memenuhi kebutuhan dasar siswa, tetapi juga memperkuat kesiapan dalam mengikuti pembelajaran.
✅Data ini menjadi bukti kuat bahwa bagi anak-anak di wilayah Indonesia Timur, kehadiran program MBG adalah kunci penting untuk menghapus bayangan.
—
Keterangan
Temuan ini diketahui dari hasil survei evaluasi yang terintegrasi dalam kerangka Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7KAIH), yang salah satunya membiasakan makan sehat dan bergizi.
Survei dilakukan melalui Kemendikdasmen melalui Puspeka. Dilakukan pada tahap baseline Mei–Juni 2025 hingga November–Desember 2025, melibatkan 1.203.309 responden murid secara nasional.
Referensi
• https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000392932
• https://www.kompas.com/edu/read/2026/02/19/101007471/survei-kemendikdasmen-dampak-mbg-mampu-mengurangi-gangguan-konsentras



